JURNALIS MUDA INDONESIA


    Lahir di Sleman, 22 November 1908 siapa yang tak kenal tokoh jurnalis yang namanya dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai seorang pengetik naskah proklamasi kemerdekaan.

    Mohamad Ibnu Sayuti atau lebih sering dikenal dengan Sayuti Melik mengawali pendidikannya di Sekolah Ongko Loro dan pada tahu 1920 Sayuti Melik masuk ke sekolah guru di Solo. Di usia belasan tahun, ia sudah tertarik belajar tentang komunisme, Marxisme, sosialisme, dan sebagainya. Dalam bidang jurnalistik ia juga tertarik dengan majalah Islam Bergerak yang merupakan pimpinan dari K.H Misbach di Kauman, Solo. Tulisan-tulisannya mengenai politik menyebabkan ia berkali-kali ditahan oleh Belanda. Pada tahun 1938 Sayuti Melik mendirikan Koran Pesat bersama istrinya (SK Trimurti) di Semarang, namun karena tulisan mereka yang kritis, Trimurti dan Sayuti Melik secara bergiliran keluar masuk pengasingan dan penjara.

    Tidak hanya menggeluti dunia jurnalistik, Sayuti Melik juga aktif dalam PPKI. Sayuti melik termauk golongan yang mendesak Sukarno dan Hatta untuk segera menyatakan proklamasi. Sayuti memberi gagasan agar teks proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia. Sayuti dikenal sebagai pendukung Soekarno. Dalam suasana gencar-gencarnya memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme). Ia juga menentang pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS. Tulisannya, Belajar Memahami Sukarnoisme dilarang karena menjelaskan perbedaan Marhaenisme ajaran Bung Karno dan Marxisme-Leninisme doktrin PKI.

    Pada tanggal 27 Mei 1989 ketika berusia 80 tahun, Sayuti Melik wafat di Jakarta. Sampai wafat, Sayuti Melik tetap mengabdi untuk bangsa ini. Soeharto yang waktu itu menjabat jadi presiden ikut melayat sosok yang sangat berpengaruh itu dalam kemerdekaan Indonesia. 



Oleh: Fadlilah Nurl F.H (A310180051)


Komentar

Postingan populer dari blog ini